Orang baik berbuat baik.
Orang jahat melakukan kejahatan.
Tapi… agar orang baik rela membunuh tanpa rasa bersalah — dibutuhkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar amarah.
Dibutuhkan dogma. Dogma agama.

Ali Imron bukanlah psikopat. Ia lahir dari keluarga religius, dikenal baik. Tapi tahun 2002, ia ikut merakit bom yang menewaskan lebih dari 200 orang di Bali. Dalam wawancara, ia berkata:
"Saya bangga bisa berjihad di negeri sendiri."
Bukan menyesal. Tapi bangga.
Karena itulah kekuatan ideologi.
Ia tidak membunuh karena benci… tapi karena yakin diperintah oleh langit.
Pernahkah kita bertanya:
Bagaimana orang yang penyayang bisa meledakkan dirinya?
Bagaimana ayah bisa menyerahkan anak gadisnya untuk dinikahi ustaz karena ‘sunnah’?
Atau ibu mendukung rajam untuk anaknya karena dianggap zina?
Bukan karena mereka jahat. Tapi karena mereka percaya.
Percaya pada dogma yang membungkus kekerasan dengan dalih moral dan wahyu.
Seperti yang dikatakan Sam Harris:
“Dalam konteks lain, suara di kepala bisa disebut gangguan jiwa. Tapi dalam agama… itu bisa disebut wahyu.”
Agama bisa mengubah kekejaman jadi pengorbanan.
Bahkan sains yang bersifat terbuka dan bersedia dikoreksi, berbanding terbalik dengan dogma agama yang mematikan pertanyaan dengan satu jawaban absolut:
“Karena itu perintah Tuhan.”
Fisikawan Steven Weinberg pernah berkata:
“Untuk membuat orang baik bisa melakukan kejahatan… dibutuhkan agama.”
Mungkin bukan Tuhan yang membuat kita takut.
Mungkin manusialah…
yang menciptakan Tuhan — untuk mengendalikan sesamanya.