Cinta Penaka Bumantara
cinta penaka bumantara:
samudra yang membentang
ombak jernih berdeburan
memuisikan tepian
cinta penaka bumantara:
manusia yang merdeka
bercumbu kasih mesra
tanpa kekangan surga
"Dalam karya ini, Imang Susu seolah-olah ingin menunjukkan bahwa dia sebagai Diri punya kehendak bebas-nya untuk 'menjadi'. Banyak kata yang dipilihnya berliku dan mengisahkan peristiwa dengan makna berlapis. Buku ini dapat membawa pembaca ke mana-mana, sekaligus tidak ke mana-mana selain ke dalam rekoleksi memori pembaca itu sendiri. Buku ini, bisa jadi, adalah sebuah persanggamaan antara pertaubatan dan pendosa yang merayakan dirinya sendiri."
(Agustina Kusuma Dewi (@inabicara), Penulis Novel "1+1=0" dan "Menikah Titik Dua")
"Pembaca renjana Imang, nikmatilah segala rasa dari segenap penjuru. Sekelar mata mengartikan tanpa menyaru. Teruskan saja menikmatinya dalam secangkir teh atau kopi hangat, di antara senja yang membulirkan titik-titik nama. Jika dieja, berarti c.i.n.t.a. Bonusnya, Anda akan mendapatkan kata-kata baru yang jarang terpampang.Tapi, itu sungguh bisa melanglangbuanakan angan, memberi tambahan keindahan di mimpi malam."
(Anjar Anastasia, Penyair dan Penulis Novel "Beraja" dan "Renjana")
"Imang Susu memperalat bahasa untuk mengentaskan kerisauan yang menggumpal. Perihal cinta dan kerinduan yang getir, puisi-puisinya mengurai alasan-alasan defensif bagi sebuah keadaan dan argumen
yang agresif atau barangkali, laten di antara untaian itu, kelindan juga utas pleidoi."
(Suci Swasty, cerpenis)