Kembalinya Penyanggama Cahaya
setelah diskriminasi binasa
mari kita kembali bercinta
tanpa kutukan surga
tanpa zikir neraka
"...seperti kata Meyer Howard Abrams bahwa seni (sastra) laksana sebuah cermin; memang tercermin dalam buku Kembalinya Penyanggama Cahaya yang berupa renungan dan perjalanan batin seorang seniman (sastrawan) yang tetap setia dan tekun berkarya meski berbagai tekanan dan kendala kehidupannya terus menyekat laju pergerakannya dari berbagai segi. Namun, pergerakan yang tulus laksana air yang turun dari hulu gunung, meskipun disekat, ia akan tetap menyelusup di sela-sela tanah basah yang tahu di mana mata air yang memang dibutuhkan oleh setiap umat manusia dalam berbagai ruang lingkup kehidupan pribadi dan masyarakatnya."
(Erwan Juhara, Sastrawan)