Gelogok Jantina
maka aku berontak sambil berdikari
bersama hentakan sepatu hak tinggi
dobrak utopia tolol sang patriarki
rambah pluralnya nikmat surgawi
karena hakikatnya alam semesta
tak sekecil kepala insan jemawa
simpulkan politik dusta berpesta
sebagai dalih kerdilkan bahagia
"Sampai kapan kita harus berpura-pura bahwa ini adalah kiamat sesungguhnya? Dan mengapa kita harus selalu terjebak dalam ketidakmerdekaan hanya karena kita setia dalam kemunafikan? Seolah tidak ada persoalan mendasar, termasuk masalah kekerasan gender yang selalu tak terselesaikan. Puisi-puisi Imang Susu dalam buku Gelogok Jantina ini mencoba membongkar semua tabir kemarahan itu dengan gaya khasnya yang bermain rima."
(Abah Omtris - Esais dan Musisi Balada)
"Dalam buku Imang Susu yang berjudul Gelogok Jantina ini, terdapat beberapa puisi yang mengungkapkan tentang kondisi ekonomi saat ini dan mewakili apa yang banyak dialami penduduk Indonesia, di mana rakyat harus bekerja lebih keras dari sebelumnya. Lantas meraih masa depan dalam keadaan kurang menguntungkan tapi mau tidak mau dipaksa untuk bertahan. Indonesia begitu kaya tapi seperti tak berdaya. Akankah semua ini membaik? Semoga para penguasa mulai mencari makna akan nurani yang tersisa sehingga Bumi Pertiwi tak bersedih lagi."
(Dini Destari - Guru, Pengusaha, dan Penulis)
"Ini adalah kumpulan puisi yang sudah lama tertunda dalam benak Imang Susu. Mungkin memang sekian lama, lebih dari satu dekade, yang dibutuhkan bara untuk dihembus dan dihempas sehingga percikan menjadi api, dan api menjadi pendar, yang cahayanya telah redup, tapi panasnya merambat pelan mencengkeram dengan penuh iman. Api yang dulu kadang-kadang menjadikan kata kering, tetapi bara menjadikan daging puisi matang dan siap disantap. Selamat menikmati puisi-puisi Imang Susu yang telah bergejolak menjadi menggelogok, melampaui jantan ataupun betina menjadi jantina."
(Ari Jogaiswara Adipurwawidjana - Dosen Sastra Inggris dan Seniman)